Ternyata Ini Ciri-ciri Orang Jenius Yang Jarang Orang Sadari

  • Bagikan
Kecerdasan
Tingkat kecerdasan seseorang sulit kita definisikan menjadi bentuk nyata. Namun ada saja cara bagi orang lain untuk menilai tingkat kecerdasan orang lain/Foto: Ilustrasi Albert Einstein/Istimewa

JAWA TIMUR, INDOtayang.COM — Tingkat kecerdasan seseorang sulit kita definisikan menjadi satu bentuk yang nyata. Namun selalu ada saja cara bagi orang lain untuk menilai tingkat kecerdasan yang ada pada orang lain.

Beberapa standar penilaiannya tak hanya dari karyanya, namun juga terlihat dari berbagai kebiasaan yang orang tersebut lakukan.

Mulai dari cara berpakaian hingga kebiasaan gaya hidupnya kerap kali orang lain jadikan sebagai ciri bahwa orang tersebut merupakan orang jenius.

Biasanya orang lain menganggap orang jenius memiliki kebiasaan cukup berbeda dengan orang dengan tingkat kecerdasan rata-rata.

Berikut beberapa ciri yang biasanya orang jenius tunjukkan, yang team indotayang rangkum dari CNBC Indonesia.

Cenderung Berantakan

Menurut profesor Cornell Robert J. Sternberg, PhD, kecerdasan adalah kemampuan untuk belajar dari pengalaman, beradaptasi dengan situasi baru, memahami dan menangani konsep abstrak, serta menggunakan pengetahuan untuk memahami lingkungan seseorang.

Dalam sebuah eksperimen dari University of Minnesota, menemukan bahwa orang-orang di lingkungan yang berantakan menghasilkan lebih banyak ide kreatif daripada mereka yang berada di tempat yang rapi.

Lebih Suka Menyendiri alias ‘Me Time’

Dalam penelitian yang berjudul ‘Country roads, take me home… to my friends: How intelligence, population density, and friendship affect modern happiness’ tersebut, orang dengan IQ tinggi ternyata lebih senang untuk ‘me time’ atau menghabiskan waktu sendiri.

Hal ini berdasarkan penelitian Norman P. Li dari Singapore Management University dan Satoshi Kanazawa dari The London School of Economics and Political Science yang pernah mengungkapkan bahwa keramaian membuat orang dengan IQ tinggi tidak nyaman.

Mengakui Kesalahan

Meski tidak harus spesifik orang jenius lakukan, namun seharusnya seluruh orang memiliki kebiasaan ini. Namun sayangnya kebanyakan saat ini orang cenderung merasa benar dari pada mengakui salah meski berada di posisi yang salah.

Perbedaannya, orang yang memiliki IQ tinggi cenderung memiliki otak yang mampu memahami sudut pandang orang lain dan tidak takut untuk mengakuinya.

Sering Mengkritik Diri Sendiri

Dalam sebuah studi tahun 1999 dari Cornell University, para peneliti menemukan bahwa orang yang tidak kompeten tidak dapat mengenali ketidakmampuan mereka sendiri, sehingga menyebabkan penilaian diri meningkat.

Padahal banyak orang mungkin berpikir bahwa orang orang cerdas itu pasti percaya diri. Tetapi penelitian menunjukkan bahwa orang cerdas tidak demikian.

Studi ini menemukan bahwa orang yang sangat kompeten cenderung meremehkan kemampuan mereka. Hal itu karena mereka tahu seberapa banyak pengetahuan yang ada di luar sana.

Jadi bukannya terlalu percaya diri, malah mereka justru sering mengkritik diri sendiri.

Suka Bicara Sendiri

Hal menarik lainnya adalah orang yang jenius sering ditemukan suka berbicara sendiri, baik di dalam hati maupun dalam bentuk tulisan.

Kebiasaan ini tanpa disadari bisa meningkatkan daya ingat dan memperkuat ketajaman pola pikir. Orang yang suka bicara sendiri tentu sering dianggap tidak waras, padahal bisa jadi itu justru kebiasaan yang jenius.

Suka Menantang Diri

Orang dengan IQ tinggi biasanya terus mencoba menantang dirinya untuk melakukan hal yang lebih besar atau cenderung ekstrim dibanding dengan kebiasaannya.

Salah satu kebiasaan orang dengan IQ tinggi biasanya memiliki rasa tidak cukup puas dengan pencapaian, meski sudah berada di tahap yang cukup bagi kebanyakan orang.

Sering Begadang

Meski kebiasaan ini tidak baik untuk tubuh, namun banyak yang menemukan bahwa yang ber-IQ tinggi lebih nyaman melakukan kerja di malam hari dari pada waktu kerja pagi hari.

Orang cerdas cenderung lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpikir dan berkarya. Maka itu biasanya orang dengan golongan ini cenderung memiliki jam tidur yang lebih sedikit.

Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahat dengan hal produktif. (Manu)

Sumber : CNBC Indonesia

  • Bagikan